Seluruh jajaran Hima PUI majalengka yg terdiri berbagi UNIVERSITAS telah mengutuk, Film yg melecehkan umat Islam. kami mersa sakit hati terhadap kaum najis bangsa kera yg telah melecehkan agama dan rosull kami. kami tidak pernah merasa takut terhadap kaum najis yahudi Amerika, hidup kami untuk Islam agama yg mulia. kami tidak pernah merasa takut akan kebencian kalian, semakin kalian membenci kami maka kerinduan kami pada sahid / suhada akan semakin membara. (Ridwana Sakral)
HIMA PUI MAJALENGKA
Selamat datang di Website HIMA PUI Majalengka....!
HIMA PUI Majalengka adalah suatu wadah organiasi kemahasiswaan yang berdiri dibawah naungan PUI. HIMA PUI Majalengka anggotanya terdiri dari berbagai Universitas dan Perguruan Tinggi yang ada di Majalengka seperti STAI PUI dan UNMA (Universitas Majalengka).
Kami para anggota HIMA PUI Majalengka mengadakan berbagai aktivitas keagamaan dan sosial. Seperti Halaqah Ishlah dan Bakti Sosial.
Senin, 17 September 2012
Senin, 10 September 2012
Mengenal Sosok Sekum HIMA PUI Majalengka
Ya Allah Jika nanti aku kembali padamu, tolonglah bawa iman dan takwa sebagaii Kendaraanku
Dan hiasilah semua apa yg engkau Muliakan,
saat ini dan selanjutnya Aku kan jadii Yg Orang lain butuhkan
(Dadan Hamdan Liwaulhamdie)
Dan hiasilah semua apa yg engkau Muliakan,
saat ini dan selanjutnya Aku kan jadii Yg Orang lain butuhkan
(Dadan Hamdan Liwaulhamdie)
Selasa, 04 Oktober 2011
Minggu, 02 Oktober 2011
Mars PUI
Ridholah hai skalian ummat Islam
'kan Allah Pemelihara.
Islam agamamu mulia
M'ngatasi skalian agama.
'kan Allah Pemelihara.
Islam agamamu mulia
M'ngatasi skalian agama.
Muhammad Pesuruh Tuhan
Rasul bagi semua alam.
Kuatkan tekadmu ini
Menuju Islam bahagia.
PUI s'lalu siap sedia
bagi ummat Muhammad
Lapangan perjuangan muslimin
cita-cita mulia.
Kerahkan wahai ummat Muhammad
tenaga sebulatnya.
Di dalam lapangan PUI kita
'tuk mencapai Islam Raya.
K.H. ABDUL HALIM
K.H. ABDUL HALIM
K.H.Abdul Halim adalah salah seorang pejuang kemerdekaan bangsa yang berasal dari Jawa Barat dan mempunyai andil besar dalam mempersiapkan kelahiran Republik Indonesia. Tokoh Ummat Islam ini adalahi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia). Atas jasa pengabdian sebagai salah satu pendiri Republik ini KH.Abdul Halim kemudian memperoleh tanda kehormatan BINTANG MAHAPUTERA UTAMA dari Presiden Republik Indoensia.
Abdul Halim lahir tanggal 26 Juni 1887 di Desa Sutawangi, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka Jawa Barat. Ia adalah putera bungsu KH.Iskandar dan Nyi Hj.Siti Mutmainnah, dari tujuh saudara. Latar belakang keluarga beliau memang dikenal taat dalam beragama, bahkan ibunya masih keturunan dari Sultan Syarif Hidayatullah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pendidikan yang menyangkut pelajaran agama Islam, sudah didapatinya sejak usia dini, dan pada usia 21 tahun setelah tamat belajar dari berbagai pesantren di Majalengka pada tahun 1908, beliau menunaikan ibadah haji lalu menetap di Mekah sambil menambah wawasan keilmuan.
Aktivitas KH.Abdul Halim
Sepulang dari Mekkah, ia mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Majlisul Ilmi. Dengan wadah ini ia giat berjuang dalam pengembangan penyiaran ajaran Islam. Setahun kemudian (1912) KH.Abdul Halim menyempurnakan Majlisul Ilmi menjadi organisasi yang lebih besar dengan nama Hayatul Qulub yang aktivitasnya disamping berupaya meningkatkan kualitas pendidikan juga mendorong kegiatan ekonomi rakyat terutama dalam menghadapi persaingan pengusaha asing yang menguasai pasar juga melawan penindasan Belanda terhadap rakyat yang memeras tenaga mereka. Hayatul Qulub memelopori berdirinya perusahaan percetakan, pembangunan, pabrik tenun serta pengembangan usaha-usaha pertanian . Suatu hal yang menarik adalah penerapan sistem pemilikan saham-saham perusahaanbagi guru-guru yang aktif mengajar. Di bidang sosial-kemasyarakatan, KH.Abdul Halim mendirikan rumah yatim piatu Fatimiyah.
Organisasi Hayatul Qulub tidak berumur panjang karena ditutup oleh pemerintah Belanda dengan alasan menganggu keamanan. Akan tetapi KH.Abdul Halim tetap gigih dan tidak pernah menyerah kegiatan-kegiatan perjuangannya tetap berjalan.
Baru pada tahun 1916 berdiri organisasi dengan nama Perikatan Oelama (PO) sebagai pengganti Hayatul Qulub. Tahun 1924 Perikatan Oelama semakin berkembang dan hampir menjangkau ke seluruh wilayah Jawa dan Madura. DI tahun 1939 organisasi sosial-pendidikan ini telah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia.
Salah satu kegiatan yang menonjol adalah program pertolongan kepada para pelajar dengan membentuk I’anatul Muta’allimin. Antara tahun 1917-1920 telah dibangun 40 Madrasah, sebagian besar di Jawa, dengan metode pengajaran modern, yang pada saat itu mendapat tentangan dari berbagai pihak. Pada Kongres ke IX P.O., KH.Abdul Halim melahirkan ide untuk membangun sebuah pondok Pesantren, dimana santri tidak saja belajar agama tetapi juga dilatih berbagai kerajinan dan keterampilan. Ide ini mendapat sambutan positif yang pada akhirnya berdiri pondok pesantren yang dikenal dengan sebutan Santi Asromo.
Sumber : http://pppui.blogspot.com/2008/06/para-pendiri-pui.html
Sejarah PUI
Sejarah dan Dinamika PUI
DUA orang takut saja jadi berani jika bersatu. Apalagi jika dua-duanya berani! Begitulah tamsil bagi dua ormas Islam yang bersatu dalam satu wadah para pemberani menegakkan kebenaran Ilahi, PUI Majalengka dan PUII Sukabumi. Berikut ini kilasan sejarah keduanya.
PUI MAJALENGKA
Perikatan Ummat Islam (PUI) atau Perikatan Oemat Islam (POI) Majalengka saat didirikan oleh K.H. Abdul Halim di Majalengka semula bernama Majlisul Ilmi (1911). MI tumbuh dan berkembang melalui proses perjuangan yang penuh tantangan dan rintangan dari penjajah Kolonial Belanda masa itu. Bahkan organisasi ini terpaksa harus mengalami beberapa kali penyempurnaan dan pergantian nama.
Penyempurnaan dimaksudkan untuk mendewasakan organisasi agar tahan uji terhadap tempaan zaman dan ujian hidup. Sedangkan pergantian nama dimaksudkan di samping untuk menyesuaikan diri terhadap misi dan beban tanggung jawab yang harus dipikul, juga untuk menghindarkan diri dari intaian dan ancaman pemerintah kolonial Belanda.
Tahun 1912 MI mengubah nama menjadi Hayatul Qulub (HQ) yang berarti “menghidupkan hati”. Setelah peristiwa aksi pemogokan buruh pabrik gula di Majalengka dalam rangka melawan penindasan penguasa Belanda, HQ makin diawasi dan dicurigai Belanda. Lalu, atas anjuran banyak pihak, antara lain dari tokoh pergerakan kemerdekaan HOS Cokroaminoto, HQ berubah nama menjadi Persyarikatan Oelama (PO) tahun 1916.
PO pun mendapat rongrongan dari pihak penjajah, bahkan dari teman seiring K.H. Abdul Halim sendiri yang telah terkena hasutan dan pengaruh aparat pemerintah Belanda.
Mereka memfitnah bahwa lembaga pendidikan (sekolah) yang didirikan PO itu adalah “sekolah kafir” karena bentuk dan sistemnya seperti sekolah Belanda, yaitu pendidikan dengan sistem kelas, duduk di bangku dan menghadap meja serta papan tulis.
Tidak hanya itu, mereka yang tidak senang terhadap perkembangan PO juga menyebarkan isu, bahwa PO itu bukan untuk dan milik rakyat awam, tetapi khusus untuk dan milik para ulama. Disebarkan kabar, yang bukan ulama tidak pantas dan tidak perlu masuk PO. Mereka pun menghasut masyarakat agar tidak masuk PO. Terhadap fitnah tersebut, KH. Abdul Halim bergeming. Ia tetap pada keyakinannya dan menerukan pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam.
Pada masa awal pendudukan Jepang, organisasi-organisasi pergerakan yang tahun 1938 bergabung dalam MIAI (PO, AII, Muhamadiyah, dan NU) dibubarkan oleh penguasa kolonial Jepang. Para ulama atau pimpinan organisasi tersebut kemudian mendesak penguasa Jepang agar organisasi-organisasi mereka dibolehkan bergerak lagi.
Beberapa bulan kemudian, organisasi-organisasi tersebut diizinkan oleh penguasa Jepang untuk melakukan kembali kegiatan-kegiatannya. Federasi MIAI pun diizinkan bergerak lagi dengan nama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Saat itulah PO berganti nama menjadi Perikatan Oemmat Islam (POI). Dengan perubahan Ejaan Bahasa Indonesia sistem Soewandi (1974), nama itu menjadi Perikatan Ummat Islam (PUI).
PUII SUKABUMI
Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) didirikan oleh KH. Ahmad Sanusi di Sukabumi, Jawa Barat. Pada awalnya, PUII bernama Al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII).
Pada masa pendudukan Jepang, AII sebagai anggota MIAI mengalami proses yang sama seperti PO. Pada saat itulah AII berganti nama menjadi Persatuan Oemmat Islam Indonesia (POII) tahun 1942 dan berubah nama lagi tahun 1947 menurut Ejaan Soewandi menjadi PUII.
Perjuangan PUII Sukabumi sejak awal secara prinsip sama dengan PUI Majalengka. Faktor utamanya, karena kedua pendiri organisasi itu, yakni KH. Ahmad Sanusi dan KH. Abdul Halim, adalah sahabat karib yang sama-sama menimba ilmi di Mekah, Arab Saudi, antara tahun 1908-1911 M. Istilahnya, keduanya “saguru saeilmu”, satu guru satu ilmu.
Keduanya bersahabat sangat baik. Mereka pun sering saling bertukar pikiran, baik di bidang pendalaman ilmu maupun pengalaman ilmunya kelak setelah kembali ke tanah air.
Waktu di Mekah, mereka juga bertemu dan menjalin persahabatan karib dengan tokoh-tokoh pejuang Islam Indonesia lainnya, seperti KH. Mas Mansyur (Muhammadiyah) dan KH.Abdul Wahab (Nahdlatul Ulama).
Sekembalinya di tanah air, persahabatan mereka berlanjut. Mereka saling berkunjung untuk lebih memantapkan cita-cita yang telah terukir dan digalang sejak di perantauan, yaitu cita-cita untuk menggalang persatuan dan kesatuan ummat Islam Indonesia. Bagi mereka, persatuan umat Islam merupakan tulang punggung wawasan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Setelah masing-masing memimpin PO dan AII, frekuensi pertemuan mereka makin tinggi dan efektif. Sejak KH. Abdul Halim (PO) diundang oleh KH. Ahmad Sanusi untuk memberikan ceramah pada Muktamar AII di Sukabumi, pada Maret 1935, rencana realisasi cita-cita tentang terciptanya persatuan dan kesatuan ummat Islam Indonesia semakin konkret. Kedua ulama beserta seluruh anggota masing-masing bertekad bulat untuk melebur organisasi mereka, guna mewujudkan cita-cita bersama, dalam ikatan organisasi baru bernama Persatuan Ummat Islam (PUI) .
Pada berbagai kesempatan, betapapun sibuknya mereka sebagai wakil-wakil rakyat dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyumbi Choosakai, mereka menyempatkan diri untuk menyusun rencana teknis pelaksanaan fusi kedua organisasi mereka.
Rencana mengenai nama bentuk organisasi hasil fusi, yaitu Persatuan Ummat Islam, rancangan (konsep) kepengurusan, waktu serta tempat diadakan fusi, dan lain-lain telah disepakati bersama. Tetapi takdir Allah tidak dapat dielakkan. Sebelum upacara fusi dilaksanakan, KH. Ahmad Sanusi dipanggil oleh Allah SWT. Beliau wafat tahun 1950.
Sesuai dengan wasiatnya kepada keluarga dan pengurus PUII agar pelaksanaan fusi secepatnya direalisasi, maka tanggal 5 April 1952 bertepatan dengan 9 Rajab 1371 H, PUI dan PUII resmi berfusi menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI). Tanggal 5 April pun dinyatakan sebagai “Hari Fusi PUI”.
Dalam beramal, PUI berpedoman pada Ishlahuts Tsamaniyah atau Perbaikan Delapan bidang, yaitu: Perbaikan Keyakinan (Ishlah ‘Aqidah), Perbaikan Ibadah (Ishlah Ibadah), Perbaikan Pendidikan (Ishlah Tarbiyah), Perbaikan Keluarga (Ishlah ‘Ailah), Perbaikan Tradisi (Ishlah ‘Adah), Perbaikan Ummat (Ishlah Ummah), dan Perbaikan Masyarakat secara keseluruhan (Ishlah Muj’tama).
Para pendiri PUI, yaitu KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, dan Mr. Syamsuddin, berkat jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dianugerahi Bintang Maha Putera Utama, berdasarkan No. 048/TK/Tahun 1992 tanggal 12 Agustus 1992. KH. Abdul Halim bahkan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada November 2008.
Saat ini, PUI memiliki jutaan kader. Anggota dan jaringan struktur terbesar ada di Jawa Barat –jumlahnya ditaksir lebih dari 10 juta anggota. PUI memiliki ribuan madrasah mulai tingkat Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan yang sederajat, Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau SLTP, dan Madrasah Aliyah (MA) atau SLTA sampai tingkat Perguruan Tinggi.
Anggotanya beragam, tersebar di daerah-daerah tingkat I (propinsi), yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur DI. Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Riau, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Bali.
Harus diakui, “bendera” PUI jarang atau tidak berkibar seperti bendera ormas Islam lain, seperti NU dan Muhammadiyah. Popularitas PUI pun cukup jauh di bawah kedua ormas tersebut. Akibatnya, kehadiran PUI kurang dirasakan atau kurang dikenal di masyarakat. Penyebab utamanya, seperti dikemukakan Anggota Penasihat PP PUI Prof. Dr. H. Hasan Mu’arif Ambary, MA., kegiatan PUI di berbagai wilayah cenderung tidak menampilkan kehadiran organisasi PUI itu sendiri. “Penyelenggaraan kegiatan yang semestinya menunjukkan organisasi induk (PUI), sering dilakukan dengan mempergunakan lembaga lokal, misalnya yayasan, sehingga kehadiran PUI kurang dikenal masyarakat,” tegasnya.
Popularitas PUI tidak sebesar nama-nama pengurusnya. Di tingpat pusat (PB PUI), sejumlah tokoh tercantum sebagai pengurus PB PUI. Sebagai contoh saja, KH. Cholid Fadhlullah (Ketua Penasihat), HM. Ahmad Rifa’I (Ketua Dewan Pembina), KH. Anwar Saleh (Pembina), Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin (Dewan Pakar), Sunmanjaya Rukmandis, dan banyak lagi. Kini popularitas PUI “mencuat”, menyusul terpilihnya H. Ahmad Heryawan (Ketua Umum PB PUI) sebagai Guburnur Jawa Barat periode 2008-2013 dalam Pilkada Jabar 2008.
Kegiatan PUI dewasa ini meliputi tiga bidang pokok, yakni pendidikan formal (TK s.d. Perguruan Tinggi), Pendidikan Nonformal (Dakwah) seperti Majelis Ta’lim, dan Kegiatan Sosial-Ekonomi seperti koperasi dan pendidikan keterampilan. Wallahu a’lam. (ASM. Romli/Intisabi, berbagai sumber).*
Jumat, 23 September 2011
Sejarah Singkat HIMA PUI
Ormas islam jarang mengevaluasi system dan metode kaderisasi secara periodik. Sementara tantangan zaman terus berubah disanalah kita perlunya mengubah paradigma berfikir terhadap agenda besar kita yaitu dakwah.
Dan bila kita cermati lebih mendalam problematika yang paling mendasar Ormas Islam pada umumnya adalah lemahnya pada aspek kaderisasi. Salah satu indikasi Ormas Islam secara umum tidak mengalami perkembangan, baik dari sisi pengembangan structural maupun aksi amal social di tengah-tengah ummat.
Disamping itu juga metode dakwah. Banyak para aktivis dakwah mempersepsikan pemahaman dakwah hanya terbatas dalam pengertian Tabligh dan Ta’lim. Padahal in hanya tahapan awal dalam proses mencapai tujuan dakwah. Justru esensi dari dakwah adalah Tarbiyyah dan Takwin yaitu pendidikan dan kaderisasi dakwah yang menyiapkan kader-kader dakwah untuk siap hidup selalu bersama dakwah, dengan melakukan perubahan diri untuk perubahan ummat.
HIMA PUI salahsatu dari bagian jama’ah perubahan untuk kemajuan dakwa yang hanya baru tebentuk beberapa saat sajah.
Berawal dari sebuah diskusi terbuka oleh pemuda PUI Yang diikuti kalangan Mahasiswa, menyoal eksistensi ORMAS PUI (Persatuan Ummat Islam). Sebagai warisan yang sangat berharga. Mengingat wadah ini telah banyak memberikan kontribusi real terhadap kemerdekaan dan pembangunan Bangsa Indonesia terutama dibidang Pendidikan dan Dakwah.
Evaluasi terhadap strategi kaderisasi dakwah yang lebih segar perlu segera dilakukan untuk memelihara dan mengembangkan wadah perjuangan ini, maka dibentuklah wadah kaderisasi generasi muslim menuju terciptanya generasi yang kokoh dan mandiri, yaitu HIMPUNAN MAHASISWA
Terbentuknya wadah ini sebelumnya telah banyak dibahas melalui berbagai forum bedah gagasan dikalangan mahasiswa muslim diberbagai kampus terutama kampus PUI seperti STAI PUI Majalengka dan kampus UIN SGD Bandung, setelah disepakati secara bulat tentang pentingnya wadah ini, maka diangkatlah wacana ini pada Muktamar PUI XI di Jakarta pada tanggal 8-11 Desember 2004.
Dengan demikian, secara de jure HIMA PUI sebagai wadah sentral kaderisasi mahasiswa muslim telah terbentuk, dengan semangat memperjuangkan tujuan Persatuan Ummat Islam (PUI) yaitu: "Menjadikan individu, keluarga, Masyarakat, budaya dan peradaban dunia yang diridhai Allah Swt.
Kamis, 22 September 2011
Informasi Pendaftaran Anggota
Bagi para mahasiswa yang ingin mendaftar menjadi anggota HIMA PUI Majalengka. Kami telah menyediakan form pendaftaran yang harus anda isi.
Untuk mengisi form pendaftaran silakan klik link di bawah ini !
SAYA INGIN MENDAFTAR
Untuk mengisi form pendaftaran silakan klik link di bawah ini !
SAYA INGIN MENDAFTAR
Rabu, 17 Agustus 2011
Training Intisab 1
Pada tanggal 13-14 Agustus 2011 kemarin yaitu hari Sabtu dan Minggu, telah diadakan acara Training Intisab 1. Namun acara Training Intisab 1 kali ini mempunyai nuansa yang berbeda, kenapa disebut berbeda? Karena, kali ini acara Training Intisab 1 pesertanya terdiri dari Himpunan Mahasiswa dan juga Himpunan Pelajar. Acara Training Intisab 1 HIMA PUI dan HIJAR PUI ini diselenggarakan langsung oleh PEMUDA PUI Majalengka yang bertempat di Gedung Bapermin.
Beberapa kejadian menarik pun ikut mewarnai acara Training Intisab 1 ini. Diantaranya adalah Training Intisab 1kali ini bukan hanya sekedar untuk merekrut kader-kader baru PUI melainkan sekaligus Training Intisab 1 yang diadakan bagi para calon pengurus HIMA dan HIJAR PUI.
Intinya, Para Mahasiswa dan Pelajar yang akan dilantik menjadi pengurus HIMA dan HIJAR PUI ikut sebagai peserta dalam Training Intisab 1 kali ini, termasuk ketua HIMA dan HIJAR itu sendiri.
Berikut beberapa foto acara pembukaan Training Intisab 1
Acara Training Intisab ini dihadiri oleh beberapa Tokoh PUI baik dari Majalengka itu sendiri maupun dari luar Majalengka seperti dari Bandung dan Jakarta. Dari Majalengka dihadiri Ust. Andi suhandi, Kang Rofik Hidayat dan Kang Umar Said, dan yang lainnya . Untuk Tokoh dari Bandung dihadiri oleh kang Jumadi dan Untuk Tokoh dari Jakarta dihadiri oleh Kang Ma’ruf yang sekaligus memberi materi Up Grading untuk HIMA dan HIJAR PUI.
Berikut Proses pelantikan pengurus HIMA PUI
Seperti yang telah disebutkan diatas, setelah proses pelantikan pengurus HIMA dan HIJAR PUI selesai, langsung di teruskan dengan Up Grading yang diberikan oleh kang Ma’ruf untuk pembekalan para pengurus HIMA dan HIJAR PUI dalam melaksanakan tugas mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)






